<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Zein Personal Site ...</title>
	<link>http://zein.blogsome.com</link>
	<description>www.zein.blogsome.com</description>
	<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 13:03:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>RENUNGAN DIRI</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/renungan-diri/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/renungan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 13:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/renungan-diri/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;
</code></pre>

<p>Assalamu&#8217;alaikum wr wb,
Semoga renungan-2 berikut ini, bermanfaat buat saya dan ikhwan/akhwat rohimakumullah&#8230;
Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. &quot; Wahai &#8216;Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya&#8217;, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;&nbsp;  <br />
Assalamu&#8217;alaikum wr wb,<br />
</p><p>Semoga renungan-2 berikut ini, bermanfaat buat saya dan ikhwan/akhwat rohimakumullah&#8230;<br />
</p><p>Rasulullah <span class="caps">SAW</span> bersabda kepada menantunya, Ali r.a. &quot; Wahai &#8216;Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya&#8217;, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan&#8230;.<br />
<br />
Ketika berwasiat kepada &#8216;Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah <span class="caps">SAW</span> bersabda : Wahai &#8216;Ali, orang yang riya&#8217; itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Wahai &#8216;Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo&#8217;alah :&quot; Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku&#8230;&quot;<br />
<br />
Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang&nbsp; resah dan gundah gulana, Ibnu Mas&#8217;ud r.a berkata :&quot; Dengarkanlah bacaan Al-Qur&#8217;an atau datanglah ke majelis-2 dzikir&nbsp; atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah <span class="caps">SWT </span>Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah <span class="caps">SWT</span> hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu&#8230;&quot;<br />
<br />
wassalamu&#8217;alaikum wr wb,<br />
hamba Allah<br />
<br />
<br />
</p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/renungan-diri/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Berguna Lagi</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/tak-berguna-lagi/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/tak-berguna-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 12:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/tak-berguna-lagi/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Pagi nan hening,&amp;nbsp; burung-burung camar pun tak terdengar&amp;nbsp; menjerit, permukaan&amp;nbsp; laut&amp;nbsp; beriak kecil diayun gelombang tak tinggi.&amp;nbsp; Nampak semua mahluk begitu letih karena&amp;nbsp; semalam&amp;nbsp; tlah&amp;nbsp; hadapi&amp;nbsp; kunjungan badai nan tak alang-kepalang.&amp;nbsp; Suasana kala itu sangatlah kemusut. Angin&amp;nbsp; besar bertiup keras mengayun permukaan laut.&amp;nbsp; Semakin cepat tatkala gemawan turun merendah menjatuhkan&amp;nbsp; hujan.&amp;nbsp; Di&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; itu, bulu&amp;nbsp; [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p>Pagi nan hening,&nbsp; burung-burung camar pun tak terdengar&nbsp; menjerit, permukaan&nbsp; laut&nbsp; beriak kecil diayun gelombang tak tinggi.&nbsp; Nampak semua mahluk begitu letih karena&nbsp; semalam&nbsp; tlah&nbsp; hadapi&nbsp; kunjungan badai nan tak alang-kepalang.&nbsp; Suasana kala itu sangatlah kemusut. Angin&nbsp; besar bertiup keras mengayun permukaan laut.&nbsp; Semakin cepat tatkala gemawan turun merendah menjatuhkan&nbsp; hujan.&nbsp; Di&nbsp; saat&nbsp; itu, bulu&nbsp; burung&nbsp; pun basah menambah beban tuk melawan angin.&nbsp; Nakhoda pukat menghitung gemunung ombak nan datang tuk&nbsp; kenali&nbsp; angin&nbsp; apa nan&nbsp; bertiup&nbsp; pun&nbsp; tuk&nbsp; mencari jalan jauhi badai.&nbsp; Pandangan jauh nakhoda tak lagi dimiliki,&nbsp; kepakan sayap burung nan pesat melesat tak&nbsp; bisa&nbsp; ditunjukkan&nbsp; lagi.&nbsp; Awak pukat disepenuh tenaga tersisa memeluk tiang-tiang pukat nan berderak-derak. Meski sudah dihitung terkadang pukat melonjak dihempas ombak&nbsp; nan&nbsp; bergerak&nbsp; tak&nbsp; tentu arah. Jiwa nan mampu mengeluh terasa diaduk tak menentu.</p><p>Selepas badai,&nbsp; sangat letihlah mahluk-mahluk yang masih menghirup udara&nbsp; pagi&nbsp; nan&nbsp; sejuk.&nbsp;&nbsp; Setelah&nbsp; digoncang&nbsp; tak&nbsp;&nbsp; menentu&nbsp;&nbsp; tak&nbsp; berpengharapan&nbsp; sedikitpun,&nbsp; jiwa&nbsp; mahluk&nbsp; di&nbsp; atas pukat mengalun datar bersama renung kan ketakmampuan diri di saat berlalu.&nbsp; Batas antara hidup dan mati telah&nbsp; dikunjungi&nbsp; pun&nbsp; ditelusuri&nbsp; manakala badai menerjang tadi.&nbsp; Pun teringat,&nbsp; tatkala Adzan terhempas dari kalbu lalu menggetar di setiap mulut manusia-manusia nan terpuruk. </p><p>Syukur pasti kan&nbsp; hadir&nbsp; di&nbsp; saat-saat&nbsp; begitu.&nbsp; Namun&nbsp; syukur&nbsp; kehadlirat&nbsp; <span class="caps">PENCIPTA</span>&nbsp; badai&nbsp; <span class="caps">YANG</span>&nbsp; <span class="caps">MAHA KUASA</span> kan menjadi cahaya nan cemerlang menyinari jiwa-jiwa itu.&nbsp; Di&nbsp; saat&nbsp; badai,&nbsp; manusia&nbsp; nan tertindas seakan bebas diangkat oleh <span class="caps">DIA</span>, ALLOH <span class="caps">SWT</span>.&nbsp; Akan tetapi, manusia penindas tlah kehilangan daya, tak kuasa sedikitpun bahkan menolong&nbsp; diri&nbsp; sendiri&nbsp; pun&nbsp; tak&nbsp; mampu.&nbsp; Sudah&nbsp; sepantasnya rasa syukur slalu menghias jiwa mahluk manusia dalam sluruh&nbsp; hidup&nbsp; nan fana di dunia.&nbsp; Ketika seseorang rakus,&nbsp; maka kerakusannya tak kan kunjung terkabul,&nbsp; karena <span class="caps">ALLOH</span> pemilik segala harta,&nbsp; <span class="caps">MAHA</span>&nbsp; <span class="caps">KAYA</span>. Andai&nbsp; seorang&nbsp; tak&nbsp; slalu&nbsp; bersyukur&nbsp; kekikiran bisa liputi diri, kikir nan dibenci serta jauh dari puji <span class="caps">ALLOH</span> dan manusia.&nbsp; Manusia nan&nbsp; pandai&nbsp; bersyukur,&nbsp; terpujilah&nbsp; ia&nbsp; dengan limpahan puji dari <span class="caps">ALLOH MAHA TERPUJI </span>[Qs.31:12].&nbsp; Sekali terdengar&nbsp; pujian&nbsp; dariNYA, niscaya&nbsp;&nbsp; berlarilah&nbsp;&nbsp; ia&nbsp;&nbsp; menuju&nbsp; raihan&nbsp; semua&nbsp; syukur.&nbsp;&nbsp; Kini, berserahlah segenap diri kepadaNYA.&nbsp; Andai&nbsp; bayi&nbsp; hendak&nbsp; berjalan&nbsp; berpegang&nbsp; erat&nbsp; pada&nbsp; tangan&nbsp; ibunda,&nbsp; manusia&nbsp; seperti&nbsp; ini&nbsp; bak&nbsp; berpegang pada tali nan kuat nan tak lapuk pun tak putus&nbsp; dihempas&nbsp; badai mana dan apapun, tali <span class="caps">ALLOH </span>[Qs.31:22].</p><p>Masih saja,&nbsp; jiwa-jiwa terhempas badai-berlalu menghitung kelakuan&nbsp; diri&nbsp; nan tlah ditempuh.&nbsp; Diri kini tahu pun sadari kan suatu masa&nbsp; dimana tak ada uluran tangan mahluk nan mampu saling bahu membahu, mata&nbsp; tak&nbsp; mampu&nbsp; memandang,&nbsp; telinga&nbsp; tak&nbsp; lagi mendengar,&nbsp; lidah takkuasa berkata,&nbsp; sebuah masa ketika kepak sayap burung tak mampu mengayuh,&nbsp; di suatu saat perpisahan seorang ayah dan anaknya, saat seorang ayah tak berguna sedikitpun bagi anaknya [Qs.31:33].</p><p>wa <span class="caps">ALLOH A</span>&#8217;LAM</p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/tak-berguna-lagi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>MENGUKUR SEBUAH CINTA</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/mengukur-sebuah-cinta/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/mengukur-sebuah-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 12:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/mengukur-sebuah-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:</p>

<p>Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa&#8217;d bin Abi Waqqash untuk berdo&#8217;a. Ajakan itu disetujui oleh Sa&#8217;d. Keduanya mulai berdo&#8217;a. Sa&#8217;d berdo&#8217;a terlebih dahulu: &quot;Tuhanku, jika nanti aku berjumpa
dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p><br />
<br />
Dalam Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:<br />
<br />
Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa&#8217;d bin Abi Waqqash untuk berdo&#8217;a. Ajakan itu disetujui oleh Sa&#8217;d. Keduanya mulai berdo&#8217;a. Sa&#8217;d berdo&#8217;a terlebih dahulu: &quot;Tuhanku, jika nanti aku berjumpa<br />
dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang).&quot;<br />
<br />
Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdo&#8217;a: Tuhanku, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu dengan-Mu. Engkau akan bertanya, &#8216;man jada&#8217;a anfaka wa udzunaka?&#8217; (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bahwa keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata, &quot;kamu benar!&quot; (shadaqta).<br />
<br />
Sa&#8217;d mengaminkan do&#8217;a Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan do&#8217;a keduanya dikabulkan oleh Allah.<br />
Sa&#8217;d bercerita kepada anaknya, &quot;Duhai anakku, do&#8217;a Abdullah lebih baik daripada do&#8217;aku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali.&quot;<br />
<br />
Kisah ini telah melukiskan sebuah cara untuk mengukur cinta kita pada Allah. Sementara banyak orang yang berdo&#8217;a agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdo&#8217;a agar dapat bertemu dengan kekasihnya sambil membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.</p><p><br />
Ketika di padang mahsyar nanti Allah bertanya pada anda: &quot;Dari mana kau peroleh hartamu di dunia?&quot; Anda akan menjawab, &quot;harta itu kuperoleh dengan kolusi dan korupsi, dengan memalsu kuitansi, dengan mendapat cipratan komisi.&quot;<br />
<br />
Allah bertanya lagi, &quot;apa saja yang telah engkau lakukan di dunia?&quot;<br />
<br />
&quot;Kuhiasi hidupku dengan dosa dan nista, tak henti-hentinya kucintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadap-Mu.&quot; Allah dengan murka akan menjawab, &quot;kamu benar!&quot;<br />
<br />
Bandingkan dengan seorang hamba lain yang ketika di padang mahsyar berkata pada Allah: &quot;Telah kutahan lapar dan dahaga di dunia, telah kubasahi bibirku dengan dzikir, dan telah kucurahkan waktu dan tenagaku untuk keagungan nama-Mu, telah kuhiasi malamku dengan ayat suci-Mu dan telah kuletakkan dahiku di tikar sembahyang bersujud di kaki kebesaran-Mu.&quot; <br />
<br />
Dan Allah akan menjawab, &quot;kamu benar!&quot;<br />
<br />
Duhai&#8230;. adakah kebahagian yang lebih dari itu; ketika seorang hamba menceritakan amal-nya dan Allah akan membenarkannya.<br />
<br />
Maukah kita pulang nanti ke kampung akherat dengan membawa amal yang bisa kita banggakan? Maukah kita temui &quot;kekasih&quot; kita sambil membawa amalan yang akan menyenangkan-Nya?<br />
<br />
Armidale, 18 September 1997<br />
<br />
Nadirsyah Hosen<br />
</p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/mengukur-sebuah-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Dua sisi</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/dua-sisi-2/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/dua-sisi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 12:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/dua-sisi-2/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code> Kita di sini&amp;#8230; masih bisa tertawa&amp;#8230; masih bisa bernyanyi&amp;#8230; masih bisa bercanda ria&amp;#8230; masih bisa makan sepuas-puasnya&amp;#8230; masih bisa berpakaian indah dan rapi          Tapi mereka di sana&amp;#8230;         hanya bisa sedih&amp;#8230;        [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p> Kita di sini&#8230; </p><p>masih bisa tertawa&#8230; </p><p>masih bisa bernyanyi&#8230; </p><p>masih bisa bercanda ria&#8230; </p><p>masih bisa makan sepuas-puasnya&#8230; </p><p>masih bisa berpakaian indah dan rapi          Tapi mereka di sana&#8230;         </p><p>hanya bisa sedih&#8230;         </p><p>hanya bisa menangis duka&#8230;         </p><p>hanya bisa merenungi nasib&#8230;         </p><p>nasib buruk yang tengah menimpa&#8230;         </p><p>tiada lagi makanan&#8230;</p><p>apalagi pakaian  Dua sisi yang amat jauh berbeda&#8230; </p><p>bagaikan siang dan malam&#8230; </p><p>bagaikan langit dan bumi&#8230; </p><p>bagaikan bulan dan mentai&#8230; </p><p>akankah kita biarkan perbedaan itu berkelanjutan ? </p><p>akankah kita biarkan dua sisi itu semakin jauh terpisah ?          </p><p>Mereka juga saudara-saudara kita&#8230;         </p><p>mereka adalah bagian dari kehidupan kita&#8230;         </p><p>bahkan mereka dan kita ibarat satu raga&#8230;         </p><p>saling merasa dan saling menjaga satu sama lainnya&#8230;         </p><p>tegakah kita tutup mata dan pintu hati kita&#8230;.         </p><p>tiada lagi mau tahu penderitaan mereka ?         </p><p>sampai hatikan kita tutup pendengaran dan rasa kita&#8230;         </p><p>tiada lagi mau meringankan beban hidup mereka di sana ?   </p><p>&nbsp;</p><p>tarbiyah@isnet.org </p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/03/23/dua-sisi-2/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menikah ? Tergesa-gesa atau Menyegerakan</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 11:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Menikah? Hmmm, siapa sih yang nggak mau? Asal sudah cukup umur, cukup
</code></pre>

<p>dewasa, cukup penghasilan, ada calon dan ada ijin orang tua sih tidak
 masalah. Tapi jika kuliah saja belum kelar, penghasilan belum jelas,
 lantas nanti anak orang mau dikasih makan apa?&quot;, begitu banyak
 pertanyaan yang harus dijawab.</p>

<p>Manusia, sesuai dengan fitrahnya, telah diciptakan [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p><p class="MsoNormal">Menikah? Hmmm, siapa sih yang nggak mau? Asal sudah cukup umur, cukup<br />
 dewasa, cukup penghasilan, ada calon dan ada ijin orang tua sih tidak<br />
 masalah. Tapi jika kuliah saja belum kelar, penghasilan belum jelas,<br />
 lantas nanti anak orang mau dikasih makan apa?&quot;, begitu banyak<br />
 pertanyaan yang harus dijawab.<br />
 <br />
 Manusia, sesuai dengan fitrahnya, telah diciptakan berpasang-pasangan<br />
 oleh Allah <span class="caps">SWT</span>. Dan adalah suatu fitrah pula timbul kecenderungan<br />
 antar pasangan tersebut.<br />
 &quot;Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu<br />
 istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa<br />
 tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang.<br />
 Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda<br />
 bagi kaum yang berfikir&quot;(QS. Ar-Ruum:21)<br />
 Karenanya Allah telah mengatur urusan itu dan memberikan solusi berupa<br />
 pernikahan. Akan tetapi, ketika pernikahan itu harus terjadi lebih<br />
 awal alias ketika kuliah belum selesai, beragam komentar lantas<br />
 bermunculan.<br />
 &quot;Udah nikah? Nggak tahan ya? Baru umur segitu!&quot;<br />
 &quot;Anak kemaren sore aja mau sok-sok menikah. Memang dia bisa apa?&quot;<br />
 &quot;Ngurus diri sendiri saja belum beres!&quot;<br />
 &quot;Jangan kecewakan kepercayaan orang tua! Mereka kasih uang supaya kita<br />
 kuliah, bukan nikah&hellip;&quot;<br />
 Bertubi-tubi komentar berdatangan, namun toh ada juga yang berani<br />
 menikah ketika kuliah dan berjuang untuk itu. Ada juga yang baru<br />
 sebatas menyetujui . terbukti dari 176 mahasiswa <span class="caps">FKUI</span> program S1<br />
 reguler yang ditanya, lebih dari 60% menyatakan setuju. Walaupun ada<br />
 28% yang menentang dan sisanya abstain. Mereka yang setuju umumnya<br />
 beralasan bahwa dengan menikah ketika kuliah seseorang dapat menjaga<br />
 diri dari perbuatan dosa. Sementara sisanya mengatakan bahwa menikah<br />
 membuat hati lebih tenang.<br />
 Peristiwa Hormonal<br />
 Keinginan untuk menikah dan membina rumah tangga tentunya menyangkut<br />
 aspek pemikiran yang jauh lebih luas dari sekedar keinginan pemuasan<br />
 dorongan biologis. Dorongan biologis yang muncul sebagai rasa tertarik<br />
 kepada lawan jenis ini sangat berkaitan erat dengan gejolak hormonal<br />
 yang muncul dalam diri seseorang. Seperti dikutip dari buku &quot;Indahnya<br />
 Pernikahan Dini&quot; karangan Ust. Fauzil Adhim, dalam masa ini,<br />
 kebanyakan pemuda sedang berada di bangku kuliah. Sementara mayoritas<br />
 masyarakat menilai mereka belum cukup umur untuk menikah.<br />
 Maka, tidak sedikit yang menggunakan istilah menikah dini bagi mereka<br />
 yang menikah pada masa-masa kuliah. Masih menurut Ustadz yang<br />
 berperawakan gempal ini, masyarakat tidak jarang melakukan over<br />
 generalisasi. Komentar yang sering muncul ialah &quot;Ya enggak. Tapi kan<br />
 menikah di masa kuliah nggak lazim. Jadinya pasti masyarakat akan<br />
 menilai negatif.&quot;<br />
 Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang memberikan pujian bagi<br />
 mereka yang menikah lebih awal dan ternyata sanggup menjalaninya<br />
 dengan baik. Penilaian yang diberikan cenderung lebih menanggapi<br />
 tentang kedewasaan yang terbentuk selama mereka mengarungi bahtera<br />
 pernikahan.<br />
 Menyegerakan Menikah vs Tergesa-gesa Menikah<br />
 &quot;Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan<br />
 orang-orang yang layak (menikah) dari antara hamba-hamba sahayamu yang<br />
 laki-laki dan yang perempuan.&quot; (QS. An-Nuur:32)<br />
 Ayat di atas menegaskan tentang pentingnya menikah hingga menjadi<br />
 perintah untuk menikahkan orang yang masih sendirian. Namun ayat<br />
 tersebut juga tidak memerintahkan seseorang untuk menikah <code>buta',&lt;br /&gt; sebab terdapat penekanan kata</code>layak&#8217; yang harus menjadi pertimbangan.<br />
 Menikah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh<br />
 dipandang sebelah mata. Menikah adalah fitrah bagi manusia dan sejalan<br />
 dengan anjuran Allah serta RosulNya. Pernyataan Rasulullah <span class="caps">SAW</span> dalam<br />
 hadist berikut dapat menjadi bahan renungan yang bisa membantu<br />
 memantapkan hati: &quot;Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di<br />
 antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka,<br />
 meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka.&quot;<br />
 Allah akan menjamin siapapun yang mau menikah. Tetapi tetap saja harus<br />
 ada persiapan yang dilakukan. Karena menikah bukanlah pekerjaan yang<br />
 akan selesai dalam waktu dekat. Bahkan bisa jadi memakan waktu<br />
 sepanjang sisa umur pasangan tersebut di dunia ini. Sehingga<br />
 perencanaan yang matang mutlak diperlukan. &quot;Orang yang mempunyai niat<br />
 yang tulus adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran<br />
 mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu<br />
 murni untuk Allah dalam segala perkara..&quot; Begitu ucap Ja&#8217;far ash<br />
 Shiddiq, guru dari Imam Abu Hanifah. Menurutnya seseorang yang<br />
 menyegerakan menikah karena niat yang jernih Insya Allah hatinya akan<br />
 diliputi oleh perasaan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi<br />
 masalah-masalah yang harus diselesaikan. Berbeda dengan menikah<br />
 tergesa-gesa yang selalu ditandai oleh perasaan tidak aman dan hati<br />
 yang diliputi kecemasan yang memburu.<br />
 Ada sebuah perumpamaan tentang pernikahan dalam buku &quot;Kado Pernikahan<br />
 Untuk Istriku&quot;: &quot;Menikah itu seperti orang yang sedang mengendarai<br />
 motor dan menjumpai tikungan yang tajam, apakah dia akan segera<br />
 membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat<br />
 sampai atau dia mengurangi kecepatan sedikit, membelok, dan kembali<br />
 meningkatkan kecepatan perlahan-lahan?<br />
 Jalan hidup ini begitu panjang. Menikah merupakan salah satu rute yang<br />
 harus dilalui oleh manusia, sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk<br />
 hidup yang diciptakan berpasang-pasangan. Menikah ibarat menapaki<br />
 titian pelangi. Ada bagian yang mendaki dan memerlukan curahan energi<br />
 ekstra dan adapula bagian yang menurun yang menawarkan kesenangan,<br />
 kedamaian serta ujung kisah yang penuh pesona.<br />
 Ketenangan Emosi dan Separuh Agama<br />
 Sebuah penelitian antara tahun 1950-1970an menemukan bahwa orang yang<br />
 menikah cenderung lebih bahagia daripada mereka yang tidak menikah,<br />
 hidup sendiri atau bercerai. Mendukung pendahulunya, Campbell dkk<br />
 menulis dalam Human Development bahwa orang yang menikah cenderung<br />
 meraih kepuasan hidup. Yang menarik dari temuan mereka bahwa yang<br />
 paling bahagia diantara pasangan nikah bahagia adalah pasangan nikah<br />
 usia 20an. Sementara pada tahun 1989, Thomsen &#038; Walker mendapati bahwa<br />
 dengan menikah para wanita menemukan tempat mengekspresikan perasaan<br />
 dan mengungkapkan luapan-luapan emosinya.<br />
 Enam tahun kemudian, Sprinthall &#038; Collins mencatat bahwa pd pernikahan<br />
 dini kehidupan seksual akan lebih teratur &#038; memperoleh legitimasi yang<br />
 kuat. Ini berpengaruh pada kemampuan mereka menikmati kehidupan seks.<br />
 Keteraturan &#038; legitimasi terhadap kehidupan seksual mereka menjadikan<br />
 dorongan seks lebih stabil. Pada gilirannya, kestabilan ini dapat<br />
 menurunkan erotisisme shg mereka lebih mampu menundukkan pandangan.<br />
 Selain itu dengan turunnya erotisisme maka seseorang akan mencapai<br />
 ketenangan emosi. Manakala emosi mencapai kondisi yang seimbang, maka<br />
 kemampuan fisik &#038; intelektual akan meningkat. Hu dan Goldman (1990)<br />
 memandangnya dari sudut kesehatan. Mereka menemukan fakta bahwa<br />
 orang-orang yang menikah cenderung lebih panjang usianya.<br />
 Mereka yang menikah akan mendapatkan jaminan kesempurnaan 50% agama.<br />
 &quot;Apabila seseorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah<br />
 menyempurnakan separo dari agamanya, maka takutlah kepada Allah<br />
 terhadap separo yang lainya.&quot;(HR Ath-Thabrani).<br />
 Menikah dapat pula dijadikan bagian dari investasi meraih ridho Allah<br />
 dengan surga sebagai janjinya. Jika mereka mendapat anak sholeh, maka<br />
 ia telah membuka salah satu pintu pahala yang tidak berakhir sampai<br />
 hari perhitungan.<br />
 Kendala Yang Mungkin Dihadapi<br />
 Umumnya masyarakat masih menilai kedewasaan atau kesiapan seseorang<br />
 untuk menikah dari segi umur semata. Fenomena ini dapat menjadi batu<br />
 penghambat yang cukup berarti. Dalam bukunya: &quot;Saatnya Untuk Menikah&quot;,<br />
 M. Fauzil Adhim menerangkan tentang kriteria kemampuan ekonomi<br />
 seseorang yang sering disalahartikan sebagai kemapanan dan<br />
 kepastiannya dalam menyediakan nafkah. Hal ini terbukti dari hasil<br />
 korespondensi menyatakan bahwa tak kurang dari sepertiga responden<br />
 memberi alasan tentang kondisi ekonomi sebagai kendala utama dalam<br />
 memutuskan menikah ketika kuliah. Definisi ini sedemikian pesatnya<br />
 berkembang sehingga banyak sekali keluarga akan berpikir dua-tiga kali<br />
 sebelum merelakan anak gadisnya dipinang. Hal ini juga mengakibatkan<br />
 gaya hidup materialistis, sehingga tak sedikit meninggikan kriteria<br />
 calon bagi dirinya.<br />
 Keluarga sebagai bagian dari komunitas yang paling sering berinteraksi<br />
 dengan seseorang, memegang andil yang besar dalam penentuan pilihan.<br />
 Seringkali keinginan yang menggebu-gebu untuk menikah ketika kuliah<br />
 mendapat tentangan dari orangtua alias tidak mendapat restu. Padahal<br />
 tanpa restu dari kedua orang tua, pernikahan bukanlah sesuatu yang<br />
 indah dan diberkahi oleh Allah <span class="caps">SWT</span>. Tidak sedikit orang tua yang sulit<br />
 menerima kenyataan bahwa anak mereka sudah tumbuh menjadi dewasa muda<br />
 dan sudah waktunya membina mahligai rumah tangga.<br />
 Selain itu keraguan akan diri sendiri, perasaan belum siap dan takut<br />
 terikat kepada komitmen juga memegang peranan yang tak kalah<br />
 pentingnya dalam menahan laju keinginan untuk menikah.</p>  </p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/menikah-tergesa-gesa-atau-menyegerakan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan Buat Sang Istri</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/renungan-buat-sang-istri/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/renungan-buat-sang-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 11:41:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/renungan-buat-sang-istri/</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wahai sang Istri &#8230;.</p>

<p>Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang
 berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?</p>

<p>Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan
 baju serta mengecup pipinya.?!!</p>

<p>Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia [...]</p>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p><br />
 Wahai sang Istri &#8230;.<br />
 <br />
 Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang<br />
 berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?<br />
 <br />
 Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan<br />
 baju serta mengecup pipinya.?!!<br />
 <br />
 Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki<br />
 rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.<img src="!" alt="" border="0" /><br />
 <br />
 Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami :<br />
 &quot;Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat<br />
 datang kekasihku&quot;.<br />
 <br />
 Berdandanlah untuk suamimu harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda<br />
 berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan, pakailah parfum,<br />
 dan bermake up lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut<br />
 suamimu.<br />
 <br />
 Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.<br />
 <br />
 Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak<br />
 dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.<br />
 <br />
 Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada<br />
 Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.<br />
 <br />
 Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga<br />
 menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal<br />
 yang jelek terhadap dirimu.<br />
 <br />
 Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah<br />
 setiap saat.<br />
 <br />
 Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta<br />
 kesedihan yang menimpanya.<br />
 <br />
 Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.<br />
 <br />
 Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid,<br />
 dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena<br />
 surat itu dapat mengusir syeitan.<br />
 <br />
 Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa<br />
 merusak agama.<br />
 <br />
 Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk<br />
 melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda<br />
 menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.<br />
 <br />
 Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan<br />
 seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang<br />
 baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya<br />
 Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah<br />
 berfirman:&quot;Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu&quot; (Al-Ghafir<br />
 : 60).<br />
 <br />
 <br />
 Diambil dari kitab &quot; Fiqh pergaulan suami istri &quot; oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.<br />
 </p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/renungan-buat-sang-istri/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Berduaan yang Terawasi</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/berduaan-yang-terawasi/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/berduaan-yang-terawasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jan 2007 10:58:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/berduaan-yang-terawasi/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Islam telah memerintahkan kaum laki-laki maupun kaum wanita agar menjauhi perkara-perkara yang syubhat, dan menganjurkan sikap hati- hati agar tidak tergelincir dalam perbuatan ma&amp;#8217;siyat kepada Allah, serta menjauhkan diri dari pekerjaan, atau tempat apa pun tidak berbaur dengan kondisi dan situasi apapun yang di dalamnya terdapat syubhat, supaya mereka tidak terjerembab dalam perbuatan yang haram. [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p>Islam telah memerintahkan kaum laki-laki maupun kaum wanita agar menjauhi perkara-perkara yang syubhat, dan menganjurkan sikap hati- hati agar tidak tergelincir dalam perbuatan ma&#8217;siyat kepada Allah, serta menjauhkan diri dari pekerjaan, atau tempat apa pun tidak berbaur dengan kondisi dan situasi apapun yang di dalamnya terdapat syubhat, supaya mereka tidak terjerembab dalam perbuatan yang haram.  </p><p>Memang benar, yang berhak membuat hukum hanya Allah. Itu sebabnya, segala sesuatunya kita serahkan saja kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalo haram yang dikatakan ALlah dan rasul-Nya, ya haram pula yang kita pahami. Begitu sebaliknya.  </p><p>Masalahnya, jika kemudian aktivitas &quot;berduaan terawasi&quot; ini pun masih rancu. Bahkan menurut saya hal itu termasuk yang nyerempet2 kepada perbuatan yang dikhawatirkan akan menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan yang maksiat.  </p><p>Nah, karena tampaknya ini akan terus menjadi perdebatan definisi pacaran islami pun masih bias ternyata&#8230;  </p><p>Oke deh, ada baiknya menyimak hadis ini.  Rasulullah <span class="caps">SAW</span> bersabda: &quot;Sesungguhnya yang halal telah jelas, begitu pula yang haram telah jelas; dan di antara dua perkara itu terdapat syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhati-hati dengan tindakan syubhat sesungguhnya ia telah menjaga agama dan dirinya, dan barang siapa yang melakukan tindakan syubhat, maka ia telah melakukan tindakan yang haram, sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan kembingnya di seputar pagar, kadang-kadang bisa jatuh melewati pagar itu. Ketahuilah sesungguhnya setiap penguasa memiliki pagar pembatas, dan sesungguhnya pagar (batas) Allah adalah apa yang diharamkannya.&quot; (HR. Bukhari)</p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2007/01/04/berduaan-yang-terawasi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2006/12/18/jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2006/12/18/jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2006 09:32:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2006/12/18/jatuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Orang yang sedang jatuh cinta logikanya selalu terbalik, yang berat terasa ringan, yang sebentar terasa lama dan yang lama terasa sebentar.Begitupun orang yang cinta kepada Allah SWT, ia merasa ringan beribadah, rindu baitullah, nikmat membaca al Qur&amp;#8217;an, dan bahkan menyongsong kematian dengan tersenyum.  &amp;nbsp;Ciri cinta sejati ada tiga ; (1) lebih suka berduaan dengan [...]
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p>Orang yang sedang jatuh cinta logikanya selalu terbalik, </p><p>yang berat terasa ringan, </p><p>yang sebentar terasa lama dan yang lama terasa sebentar.</p><p>Begitupun orang yang cinta kepada Allah <span class="caps">SWT</span>, </p><p>ia merasa ringan beribadah, rindu baitullah, </p><p>nikmat membaca al Qur&#8217;an, dan bahkan menyongsong kematian dengan tersenyum.  </p><p>&nbsp;</p><p>Ciri cinta sejati ada tiga ; </p><p>(1) lebih suka berduaan dengan yang dcintai daripada dengan yang lain, </p><p>(2) lebih suka berbicara dengan yang dicintai daripada dengan yang lain, dan </p><p>(3) lebih suka mengikuti kehendak orang yang dicintai </p><p>daripada kehendak sendiri atau kehendak orang lain. </p><p>Orang yang sedang jatuh cinta cenderung sering menyebut nama dia yang dicintai, </p><p>dan bahkan merasa nikmat diperbudak olehnya </p><p>Doa orang yang cinta kepada Sang Khaliq antara lain :  </p><p>Allohumma rohmataka arju fala takilni ila nafsi thorfata `ainin ya arhama ar rahimin.  </p><p>Ya Allah, hanya kasih sayang Mu yang kudambakan, </p><p>jangan Engkau biarkan aku menentukan sendiri kemauanku, </p><p>walau hanya sekejap mata, wahai Tuhan kekasihku. </p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2006/12/18/jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>hati kecil&#8230;</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/hati-kecil/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/hati-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 04:52:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/hati-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>&amp;quot;...Apabiia seseorang melakukan perbuatan yang dianggap kurang benar, maka selalu muncul jeritan dari dalam hatinya. Saat ituiah nurani mulai bicara&amp;#8230;&amp;quot;
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p><span>&quot;...Apabiia seseorang melakukan perbuatan yang dianggap kurang benar, maka selalu muncul jeritan dari dalam hatinya. Saat ituiah nurani mulai bicara&#8230;&quot;</span></p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/hati-kecil/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>renungan aja&#8230;</title>
		<link>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/renungan-aja/</link>
		<comments>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/renungan-aja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Aug 2006 03:52:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Muhasabah</category>
		<guid>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/renungan-aja/</guid>
		<description><![CDATA[<pre><code>Jangan terpesona hanya karena wajah yang manis dan tutur kata yang penuh rayu, sebab berislam yang benar tidak pernah didasarkan pada kehalusan tutur dan perilaku semata, tapi pada kekuatan hujjah yang berlandaskan al-Qur&amp;rsquo;an dan Sunnah yang shahihah. Mudah-mudah Anda dapat memahami itu. Wallahu a&amp;rsquo;lam.
</code></pre>
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><p>Jangan terpesona hanya karena wajah yang manis dan tutur kata yang penuh rayu, sebab berislam yang benar tidak pernah didasarkan pada kehalusan tutur dan perilaku semata, tapi pada kekuatan hujjah yang berlandaskan al-Qur&rsquo;an dan Sunnah yang shahihah. Mudah-mudah Anda dapat memahami itu. Wallahu a&rsquo;lam.</p></p>

 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://zein.blogsome.com/2006/08/01/renungan-aja/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
