Zein Personal Site …

June 19, 2006

Diam….

Filed under: Hikmah

Diam ! Jangan berfikir.
Perbanyak gunakan hati.
Diam ! Jangan mengeluh.
Perbanyak mensyukuri, apa yang telah anda miliki.

Diam ! Berhentilah meminta.
Perbanyak memberi.
Diam ! Jangan banyak mengatur.
Perbanyak, memberi ruang dan kebebasan.

Diam ! Jangan mengritisi.
Perbanyak merenungkan dan perbaiki diri.
Diam ! Berhentilah bicara.
Perbanyak menikmati ketenangan.

Diam ! Perbanyak mendengar petunjuk-petunjuk kesuksesan anda.

June 15, 2006

Si Pencari Cinta

Filed under: Hikmah

Si Pencari Cinta
Author: Abu Aufa

Alkisah di suatu zaman, hidup seorang lelaki yang
mencari cinta, namanya Arjuna. Saking ngebetnya,
gunung tertinggi didaki, isi bumi dijelajahi, lautan
pun diarungi, cuma untuk mencari tempat berlabuh,
yaitu wanita. Gilee beneer… Nih Arjuna, kagak peduli
gunung, bumi, lautan, alam semesta ini punya siapa,
maen grasak-grusuk aja! Di setiap tempat Arjuna
berkata, "Wahai wanita, cintailah aku." Ih… nih
anak, malu-maluin ya! Masa’ sih sampe’ gitu-gitu
banget, ya…namanya juga pencari cinta bo!

Di kisah yang lain, seorang laki-laki yang bernama
Ibrahim pun mencari cinta. Saat malam mulai menyapa
alam, tampak sebuah bintang, tak lama kemudian sang
bintang pun tenggelam. "Aku tak menyukai yang
tenggelam," kata Ibrahim. Beberapa saat kemudian,
terbitlah sang rembulan, bersinar indah penuh
kelembutan. Namun, bulan pun hanya sesaat, tersipu
malu dengan keindahannya. Adzan subuh pun menyeruak
kegelapan, kokok ayam jantan membelah tetesan embun
pagi, tak lama keperkasaan mentari menerangi jagat
raya ini, "Inikah dia yang kucari?" tanya beliau pula.
Bukan…bukan itu, karena mentari pun bersujud, lalu
merunduk sembunyi.


Ikhwah fillah rahimakumullah…
Kisah di atas adalah ilustrasi dari 2 manusia si
pencari cinta. Di dunia ini, betapa banyak orang-orang
yang mencari cinta. Namun jelas ada bedanya disini,
antara laki-laki yang bernama Arjuna dengan Ibrahim
a.s., yang namanya termaktub indah di lembaran suci Al
Qur’an. Arjuna mencari cintanya tanpa tedeng
aling-aling, gak peduli sana-sini, jumpalitan, cuma
mencari cinta wanita. Emangnya salah si Arjuna, karena
mencari cinta? Ih…jangan protes dulu dong, emang sih
fitrah manusia itu ya pasti merasakan cinta [QS Al
Imran: 14]. Tapi apa iya harus seperti itu? Masa’ sih
akal, nalar dan fikiran sampe’ gak jalan, bahkan
hingga melebihi cinta-Nya! Waduh…

Padahal banyak kisah cinta sejati di dunia ini lho,
salah satunya adalah cinta Ibrahim yang tak pernah
pudar, setelah ia mengenal dan mengetahui siapa yang
patut menerima cintanya. Beliau mengenal, dan kemudian
sayang, lantas jatuh hati kepada Sang Pencipta. Karena
itu yang dicintai pun berkenan menyambut cintanya,
bahkan menjadikannya sebagai khalilullah [QS An
Nisaa’: 125].

Cinta disini bukan cinta yang penuh kepalsuan, emosi
apalagi birahi, namun cinta laksana mutiara yang
memancarkan cintanya pada Rabb seluruh jagat raya ini,
mengaliri denyut nadi, helaan nafas serta aliran darah
untuk tunduk dan patuh pada titah-Nya. Cinta ini
mestinya menempati prioritas utama pada diri seorang
muslim, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul dan jihad
di jalan-Nya. Inilah cinta hakiki!

Dari nenek moyang kita dulu, sampe’ sekarang, buanyak
buanget manusia-manusia yang telah jatuh cinta, namun
apakah cinta mereka dan kita adalah cinta hakiki
sebagaimana cinta mereka yang disebut ‘manusia
langit?’

Adakah cinta kita adalah cinta seorang Sumayah binti
Khayyath, yang siap menjadi syahidah pertama dalam
sejarah Islam demi mempertahankan akidah yang
dicintainya. Ataukah Ali bin Abi Thalib r.a. yang rela
‘pasang badan’ menggantikan Rasulullah SAW di tempat
tidurnya sewaktu beliau keluar untuk hijrah, padahal
beliau tahu maut telah didepan mata siap mengancam
jiwanya? Atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang tak
kalah ikhlas tangan dan kakinya dipatuk binatang
berbisa saat berdua dengan seseorang yang dicintainya?
Ia tak ingin tubuh orang yang dicintai dan dikasihinya
tersentuh sedikitpun oleh binatang-binatang yang
berbisa itu.

Mereka hanyalah sedikit contoh dari orang-orang yang
jatuh cinta dengan cinta yang sebenarnya. Sebuah cinta
sejati, cinta hakiki yang akan mendapatkan ridha
Illahi Rabbi.

Nah…sekarang milih yang mana, seorang Arjuna yang
grasak-grusuk mencari cinta, atau seorang Ibrahim
a.s., Sumayah binti Khayyath, Ali bin Abi Thalib r.a.
atau pun Abu Bakar Shiddiq r.a. yang mencari cinta
sejati?


Ya akhi wa ukhti,
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba
yang selalu mendambakan cinta, keridhoan kepada-Nya
ya, insya Allah, aamin allahumma aamiin.


Kutahu pasti cinta-Mu dalam dan murni
Namun mengapa sulit untukku mendapatkan cinta dari-Mu

Hidupku ini terasa hampa dan sunyi
Tanpa belaian kasih sayang-Mu Cintailah hamba-Mu ini
Ya Allah …

Allah …
Leraikanlah segala beban di dunia ini
Hanya pada-Mu yang kuharap hanya cinta ikhlas-Mu
Merasuk ke dalam kalbu
Allah dengarkanlah hamba-Mu

Allah …
Dengarkanlah bisikan suara hatiku
Hapuskan noda dan dosa di kalbu
Hanya pada-Mu
Agar aku dapat menggapai cinta-Mu

Cintaku pada-Mu ya Allah
Ya Allah

Ku bersujud kepada-Mu Mengharapkan cinta suci-Mu
(Snada: Cinta Ilahi)


IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

Abu Aufa

Kesabaran Meniti Kemiskinan

Filed under: Hikmah

(sisi Lain Kehidupan Fatimah Az-Zahra)

Suatu ketika, demikian menurut riwayat Suwaid bin Ghaflah, Ali mendapat kesusahan. Fatimah pun datang ke tempat Rasulullah. Ia mengetuk pintu. Rasulullah berkata, “Aku mendengar suara kecintaanku di depan pintu. Wahai Ummu Aiman, bangunlah dan lihatlah.” Ummu Aiman membukakan pintu untuknya, dan Fatimah pun masuk. Rasulullah berkata kepadanya, “Engkau datang kepada kami pada waktu yang tidak biasanya.”

Fatimah pun bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apa makanan malaikat di sisi Allah?”

“Bertahmid (memuji Allah),” Jawab Rasulullah.

“Apa makanan kita?” Tanya Fatimah lagi.

“Demi Allah, tidak pernah api menyala selama sebulan penuh pada keluarga Muhammad. Maukah Engkau aku ajarkan lima kalimat yang Malaikat Jibril ajarkan kepadaku?” Tanya Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, apa kaliamt itu?”

Nabi pun menjawab:
“Yaa Rabbilawwaliina Wal-akhiriina, Yaa Dzalquwwatilmatiina, Wa Yaa Raahimalmasaakiini Wa Yaa Arhamar-rahimiina” (Wahai Tuhan orang-orang terdahulu, Tuhan orang-orang kemudian, wahai Pemilik kekuatan yang kokoh, Wahai Pengasih orang-orang miskin, Wahai Yang Paling Pengasih dari yang Pengasih.”

Lalu Fatimah pun pulang. Ketika Ali melihatnya, ia bertanya, “Bagaimana hasilnya, wahai Fatimah?”

“Fatimah menjawab, “Aku pergi untuk mendapatkan dunia dan pulang dengan membawa akhirat.”

Lalu Ali berkata kepadanya, “Kebaikan di hadapanmu, kebaikan di hadapanmu!”

Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk Fatimah yang sedang sakit kepala. Beliau bertanya kepadanya, “Anakku, bagaimana keadaanmu?” Fatimah menjawab, Aku benar-benar sakit kepala, dan bertambah sakit karena aku tidak memiliki makanan yang dapat aku makan.” Maka beliau berkata, “Tidakkah kamu senang bahwa kamu adalah pemimpin wanita di seluruh alam?

Abu Ja’far mengatakan, “Fatimah mengadu kepada Rasulullah tentang Ali. Ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidak tinggal sesuatu pun dari rizkinya melainkan ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Fatimah, apakah engkau marah kepada saudaraku dan anak pamanku. Sesungguhnya kemarahan dia adalah kemarahanku, dan kemarahanku adalah kemarahan Allah.”

Pada suatu hari, Rasulullah datang ke rumah Fatimah lalu bertanya, “Mana anak-anakku Hasan dan Husain?” Fatimah menjawab, “Pagi ini tidak ada sesuatu di rumah yang dapat dicicipi, sehingga Ali mengatakan, ‘Saya akan pergi dengan keduanya ke rumah seorang Yahudi.” Rasulullah pun pergi ke tempatnya. Beliau mendapati keduanya sedang bermain, sedang di tangan mereka terdapat sisa kurma. Belaiu berkata, “Wahai Ali, mengapa engkau tidak menyuruh pulang keduanya anakku ini sebelum mereka sangat kepanasan?” Ali menjawab, “Pagi ini tak ada sesuatu pun yagn kami miliki di rumah. Bagaimana jika engkau duduk dulu, wahai Rasulullah, samapi aku mengumpulak buah untuk Fatimah?” Ali menimba air untuk seorang Yahudi, dimana untuk setiap timba ia mendapat sebutir kurma. Setelah terkumpul baginya sejumlah kurma, ia pun kembali ke rumah.”

Imran bin Hushain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fatimah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata, “Mendekatlah Fatimah!” Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi, “Mendekatlah, Fatimah!” Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggangkan jari-jarinya. Setelah itu Beliau berdoa,
”Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah Engkau laparkan Fatimah binti Muhammad.”

Imran mengatakan, “Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya dan hilanglah kekuning-kuningannya.”

Kelembutan Hati Seorang Kekasih

Filed under: Hikmah

Kelembutan Hati Seorang Kekasih…..

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah dimasak untuk dimakan,
sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.

Saidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan
rumahtangga. Jika terdengar azan beliau cepat2 berangkat ke masjid, dan cepat2 pula kembali
sesudah selesai sembahyang.

Pernah beliau pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar ketika itu. Tetapi dilihatnya
tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada kerana Saidatina ‘Aisyah
belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “belum ada sarapan Ya Humaira’ ?” (Humaira’ adalah
panggilan mesra untuk Saidatina ‘Aisyah yang bererti Wahai Yang Kemerah2an)

‘Aisyah menjawab dengan agak seba salah, “Belum ada apa-apa Wahai Rasullullah”
Rasullullah lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” Tanpa sedikit pun rasa
kesal di wajahnya.

Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasullullah
menegur “Mengapa kamu memukul isterimu?” Lantas soalan itu dijawab dengan agak
gementar, “isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasihat beberapa kali tetapi dia tetap
degil, jadi aku pukul dia.” . “Aku tidak bertanya alasanmu,” Sahut Nabi S.A.W “Aku
menanyakan mengapa kamu memukul teman tidurmu dan ibu kepada anak2mu?”

Pernah baginda bersabda, “Sebaik2 lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap
isterinya.”

Prihatin, sabar dan tawaduknya baginda dalam menjadi ketua keluarga lansung tidak sedikitpun
menjejaskan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda
antara satu rukun ke rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendegar bunyi menggerutup
seolah2 sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergesel antara satu sama lain.

Saidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu lansung bertanya setelah selesai
solat. “Ya Rasullullah, kami melihat seolah2 tuan menanggung penderitaan yang amat berat,
tuan sakitkah Ya Rasullullah?”

“Tidak Ya Umar. Alhamdulillah aku sehat dan segar.”
Ya Rasullullah mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah
sendi bergeselan di tubuh tuan? Kami yakin tuan sedang sakit…” Desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasullullah mengangkat jubahnya. Para sahabat terkejut. Perut baginda yang kempis,
kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu
itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi haus setiap kali pergerakan tubuh baginda.

“Ya Rasullullah! Adakah apabila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan
mendapatkannya buat tuan?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut “Tidak para sahabatku. Aku tahu apapun akan engkau korbankan
demi Rasulmu. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti apabila aku sebagai
pemimpin menjadi beban terhadap umatnya.”

“Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang
kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi kelaparan di akhirat kelak.”
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis,
miskin dan kotor. Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap kasar oleh seorang Arab
Badwi sehingga berbekas merah di lehernya. Dan penuh kehambaan baginda membasuh di tempat yang
dikencing si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.

Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita…Adakah lagi bayangan
peribadi baginda Rasullullah S.A.W pada hari ini? Apa-apa yang didengar sehari-hari yang
dibedah oleh media massa , hanyalah cerita-cerita derita akibat sikap mereka-mereka yang
tidak berperanan di tempatnya. Amat sukar mencari manusia yang sanggup mengorbankan
kepentingan diri untuk orang lain semata-mata takutkan Allah S.W.T…sepertimana yang dilakukan
oleh Rasullullah.

May 2, 2006

Jilbab Wanita Muslimah

Filed under: Hikmah

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany

Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menutup seluruh anggota badannya dan tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya, kecuali wajah dan dua telapak tangannya, maka ia harus menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

1. Meliputi Seluruh Badan Selain Yang Dikecualikan

Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi :
"Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."

Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi :
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."

Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan."

Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. "Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan."

Al-Qurthubi berkata : Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata kepadanya : "Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat, kecuali ini." Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak tangannya. Allah Pemberi Taufik dan tidak ada Rabb selain-Nya."

2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan

Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi :
"Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka."

Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 :
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."

Juga berdasarkan sabda Nabi :
"Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya." (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).

Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).

3. Kainnya Harus Tebal (Tidak Tipis)

Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk."

Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).

Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).

Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).

Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).
Oleh karena itu Aisyah pernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."

4. Harus Longgar (Tidak Ketat) Sehingga Tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya

Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).

Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).

Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).

Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.

5. Tidak Diberi Wewangian Atau Parfum

Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanah dalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).

Dari AbuHurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir." (ibid)

Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi." (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).

Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).

Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.

6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki

Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.

Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita." (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)

Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain : "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).

Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu)." (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).

Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.

Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.

7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir

Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka.
Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi :
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah "Janganlah mereka seperti…" merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.

Allah berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : "Raaina" tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih."

Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan "Denagrlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata "ruunah" (artinya ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46.

Allah telah memberi tahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan

8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas (Pakaian Kebesaran)

Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda :
"Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka." (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).

Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94). Ibnul Atsir berkata : "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu.
Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong."

Kesimpulannya adalah :
Hendaklah menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak dengan perincian sebagaimana yang telah dikemukakan, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.

Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany)

Oleh: Rofiq Adam –
Dicopy dari: perpustakaan-islam.com

Tak Ada Pilihan Lain Kecuali Memilih

Filed under: Hikmah

Suatu siang, seperti biasanya Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA berjalan mengelilingi kota Madinah. Kali ini, Umar ditemani seorang sahabatnya, Ma’la bin AJarud. Tiba-tiba saja, mereka berpapasan dengan seorang wanita tua. Wanita itu kemudian berdiri di depan mereka. "Wahai Umar," ujarnya, "dahulu kami mengenalmu sebagai Umair (singa kecil), lalu menjadi Umar dan kemudian menjadi Amirul Mukminin. Takutlah pada Allah wahai Ibnul Khattab. Perhatikan keadaan manusia di sekitarmu. Siapa yang takut pada Allah, maka perjalanan hidup yang jauh itu akan terasa dekat . Dan orang yang takut pada kematian , ia akan khawatir bila kesempatan hidupnya telah lewat."

Umar RA, sosok sahabat Rasul yang terkenal pemberani dan amat disegani itu, menangis. Air matanya lalu membentuk seperti anak sungai di pipinya. Ibnul Al Jarud terkejut melihat kondisi Umar yang disebabkan perkataan wanita itu. Ia segera ingin meminta agar wanita itu berhenti berkata keras pada Amirul Mukminin . "Ibu, kau telah membuat Amirul Mukminin menagis!?" ujar Ibnul Jarud. Tapi belum apa-apa, Umar menyergahnya dan mengatakan, "Biarkan dia wahai Jarud. Tahukah engkau siapa wanita ini? Dia adalah Khaulah binti Hakim. Wanita yang didengar perkataannya oleh Rasulullah SAW. Karena itu, Umar lebih layak mendengarkan perkataannya dan mengikutinya."

Ya, Khaulah adalah wanita yang berjasa memprakasai pernikahan Rasulullah dengan Saudah binti Zum’ah dan Aisyah binti Abu Bakar RA. Atas masukan Khaulah, Rasulullah setelah wafatnya Khadijah RA, menikahi Saudah dan kemudian Aisyah RA. Khaulah mengigatkan Amirul Mukminin, tentang perjalanan hidup seseorang yang selalu berubah. Umar bin Khattab dahulunya seorang anak kecil yang tak tahu apapun dan tak bisa apa-apa. Ia kemudian telah melewati masa jahiliyah. Kemudian cahaya hidayah Allah SWT menerpanya. Ia pun memilih jalan hidupnya menjadi seorang Muslim. Ia kemudian menjadi seorang khalifah, dengan reputasi dakwah dan jihad serta kesalihan yang dicatat baik oleh pena sejarah.

Tangis Umar itu adalah tangis seseorang yang terngiang kembali bagaimana ia mengambil pilihan pilihan penting dalam hidupnya. Bahkan pilihan hidup mati di dunia sampai akhirat. Sebuah keputusan yang tidak ringan. Meninggalkan sebuah ideologi yang sudah mendarah daging, dan mengambil ideologi baru. Meninggalkan kebiasaan lama, dan mengambil kebiasaan baru. Menanggalkan kebesaran – kebesaran lama yang palsu bersama pembunuhan, minuman tuak, dan menggantikannya dengan kebesaran baru, dalam sujud dan ibadah. Dalam penghambaan dan kepasrahan.

Dahulu ia seorang jahiliyah, yang memilih jalan hidup bersebrangan dengan Islam. Hingga Allah membuka pintu hidayah, dan ia pun memang memilih jalan hidayah itu setulus hati dan sepenuh rasa tanggung jawab.

Apapun, yang kita pilih di dunia ini ujungnya adalah masalah tanggung jawab. Memikul tanggung jawab apapun pasti melelahkan. Tidak ada hidup yang tidak melelahkan. Semua pasti berujung pada kelelahan. Yang membedakan hanya bagaimana seseorang memahami dan menghargai hidupnya dengan kebaikan. Hanya itu yang membedakan.

Seperti firman Allah SWT, "Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang
orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa-dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir." (QS.Ali Imran:140-141)

Allah SWT menjelaskan, bahwa pada dasarnya orang kafir maupun orang mukmin itu sama-sama mengalami rasa capek, kelelahan, kesakitan. Tetapi yang membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang kafir ialah bahwa meski sama-sama sakit, sama-sama lelah, orang-orang mukmin mengharapkan semua itu ada balasan pahalanya di sisi Allah. Sementara orang-orang kafir tidak bisa mengharapkan balasan pahala tersebut dari Allah SWT.

Hidup hanyalah kesempatan untuk membuat pilihan-pilihan. Segalanya digulirkan dan digilirkan. Setiap manusia lahir, hidup, lalu mati. Kecil, akhirnya membesar. Muda, lama-lama tua. Muncul kesenangan, terkadang berganti kesedihan. Sehat dan sakit. semua fana. Semua pasti selalu berubah, bergerak dan berjalan. Tetapi semuanya akan berhenti dan berakhir. Ketika itulah kehidupan di dunia akan berganti pada kehidupan di akhirat. Ketika itulah semua dinamika dan gerak hidup seseorang berakhir. Rasulullah saw dalam hadits shahih menyebutkan, "Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan hidup setelah mati."

Al Hikmah

Filed under: Hikmah

Kita sering mendengar kata Al-Hikmah. Misalnya dalam aturan dakwah bil-hikmah. Makna Al-Hikmah begitu luas. Di sisi lain bagi bagi kebanyakan orang, maknanya seperti rahasia yang misterius. Allah mengungkapkan sebagian dari rahasia ini di surat Al-Israa’. Surat tersebut menjelaskan bahwa untuk mempraktekkan Al-Hikmah setidaknya seorang muslim haruslah lurus, hemat, peduli, bertanggung-jawab dan rendah-hati.

Itulah mengapa seorang muslim ketika ditimpa musibah selalu mencari hikmah dibalik kesulitan itu. Misalnya, "Oh, musibah ini menjadi peringatan agar saya lebih peduli dan memperbanyak sedekah", atau "agar saya lebih rendah hati dan tidak lupa diri."