Zein Personal Site …

March 23, 2007

RENUNGAN DIRI

Filed under: Muhasabah

          
Assalamu’alaikum wr wb,

Semoga renungan-2 berikut ini, bermanfaat buat saya dan ikhwan/akhwat rohimakumullah…

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan….

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda : Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara.        Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah :" Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku…"

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang  resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata :" Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-2 dzikir  atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

wassalamu’alaikum wr wb,
hamba Allah


Tak Berguna Lagi

Filed under: Muhasabah

Pagi nan hening,  burung-burung camar pun tak terdengar  menjerit, permukaan  laut  beriak kecil diayun gelombang tak tinggi.  Nampak semua mahluk begitu letih karena  semalam  tlah  hadapi  kunjungan badai nan tak alang-kepalang.  Suasana kala itu sangatlah kemusut. Angin  besar bertiup keras mengayun permukaan laut.  Semakin cepat tatkala gemawan turun merendah menjatuhkan  hujan.  Di  saat  itu, bulu  burung  pun basah menambah beban tuk melawan angin.  Nakhoda pukat menghitung gemunung ombak nan datang tuk  kenali  angin  apa nan  bertiup  pun  tuk  mencari jalan jauhi badai.  Pandangan jauh nakhoda tak lagi dimiliki,  kepakan sayap burung nan pesat melesat tak  bisa  ditunjukkan  lagi.  Awak pukat disepenuh tenaga tersisa memeluk tiang-tiang pukat nan berderak-derak. Meski sudah dihitung terkadang pukat melonjak dihempas ombak  nan  bergerak  tak  tentu arah. Jiwa nan mampu mengeluh terasa diaduk tak menentu.

Selepas badai,  sangat letihlah mahluk-mahluk yang masih menghirup udara  pagi  nan  sejuk.   Setelah  digoncang  tak   menentu   tak  berpengharapan  sedikitpun,  jiwa  mahluk  di  atas pukat mengalun datar bersama renung kan ketakmampuan diri di saat berlalu.  Batas antara hidup dan mati telah  dikunjungi  pun  ditelusuri  manakala badai menerjang tadi.  Pun teringat,  tatkala Adzan terhempas dari kalbu lalu menggetar di setiap mulut manusia-manusia nan terpuruk.

Syukur pasti kan  hadir  di  saat-saat  begitu.  Namun  syukur  kehadlirat  PENCIPTA  badai  YANG  MAHA KUASA kan menjadi cahaya nan cemerlang menyinari jiwa-jiwa itu.  Di  saat  badai,  manusia  nan tertindas seakan bebas diangkat oleh DIA, ALLOH SWT.  Akan tetapi, manusia penindas tlah kehilangan daya, tak kuasa sedikitpun bahkan menolong  diri  sendiri  pun  tak  mampu.  Sudah  sepantasnya rasa syukur slalu menghias jiwa mahluk manusia dalam sluruh  hidup  nan fana di dunia.  Ketika seseorang rakus,  maka kerakusannya tak kan kunjung terkabul,  karena ALLOH pemilik segala harta,  MAHA  KAYA. Andai  seorang  tak  slalu  bersyukur  kekikiran bisa liputi diri, kikir nan dibenci serta jauh dari puji ALLOH dan manusia.  Manusia nan  pandai  bersyukur,  terpujilah  ia  dengan limpahan puji dari ALLOH MAHA TERPUJI [Qs.31:12].  Sekali terdengar  pujian  dariNYA, niscaya   berlarilah   ia   menuju  raihan  semua  syukur.   Kini, berserahlah segenap diri kepadaNYA.  Andai  bayi  hendak  berjalan  berpegang  erat  pada  tangan  ibunda,  manusia  seperti  ini  bak  berpegang pada tali nan kuat nan tak lapuk pun tak putus  dihempas  badai mana dan apapun, tali ALLOH [Qs.31:22].

Masih saja,  jiwa-jiwa terhempas badai-berlalu menghitung kelakuan  diri  nan tlah ditempuh.  Diri kini tahu pun sadari kan suatu masa  dimana tak ada uluran tangan mahluk nan mampu saling bahu membahu, mata  tak  mampu  memandang,  telinga  tak  lagi mendengar,  lidah takkuasa berkata,  sebuah masa ketika kepak sayap burung tak mampu mengayuh,  di suatu saat perpisahan seorang ayah dan anaknya, saat seorang ayah tak berguna sedikitpun bagi anaknya [Qs.31:33].

wa ALLOH A’LAM

MENGUKUR SEBUAH CINTA

Filed under: Muhasabah



Dalam Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:

Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa’d bin Abi Waqqash untuk berdo’a. Ajakan itu disetujui oleh Sa’d. Keduanya mulai berdo’a. Sa’d berdo’a terlebih dahulu: "Tuhanku, jika nanti aku berjumpa
dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang)."

Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdo’a: Tuhanku, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu dengan-Mu. Engkau akan bertanya, ‘man jada’a anfaka wa udzunaka?’ (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bahwa keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata, "kamu benar!" (shadaqta).

Sa’d mengaminkan do’a Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan do’a keduanya dikabulkan oleh Allah.
Sa’d bercerita kepada anaknya, "Duhai anakku, do’a Abdullah lebih baik daripada do’aku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali."

Kisah ini telah melukiskan sebuah cara untuk mengukur cinta kita pada Allah. Sementara banyak orang yang berdo’a agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdo’a agar dapat bertemu dengan kekasihnya sambil membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.


Ketika di padang mahsyar nanti Allah bertanya pada anda: "Dari mana kau peroleh hartamu di dunia?" Anda akan menjawab, "harta itu kuperoleh dengan kolusi dan korupsi, dengan memalsu kuitansi, dengan mendapat cipratan komisi."

Allah bertanya lagi, "apa saja yang telah engkau lakukan di dunia?"

"Kuhiasi hidupku dengan dosa dan nista, tak henti-hentinya kucintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadap-Mu." Allah dengan murka akan menjawab, "kamu benar!"

Bandingkan dengan seorang hamba lain yang ketika di padang mahsyar berkata pada Allah: "Telah kutahan lapar dan dahaga di dunia, telah kubasahi bibirku dengan dzikir, dan telah kucurahkan waktu dan tenagaku untuk keagungan nama-Mu, telah kuhiasi malamku dengan ayat suci-Mu dan telah kuletakkan dahiku di tikar sembahyang bersujud di kaki kebesaran-Mu."

Dan Allah akan menjawab, "kamu benar!"

Duhai…. adakah kebahagian yang lebih dari itu; ketika seorang hamba menceritakan amal-nya dan Allah akan membenarkannya.

Maukah kita pulang nanti ke kampung akherat dengan membawa amal yang bisa kita banggakan? Maukah kita temui "kekasih" kita sambil membawa amalan yang akan menyenangkan-Nya?

Armidale, 18 September 1997

Nadirsyah Hosen

Dua sisi

Filed under: Muhasabah

Kita di sini…

masih bisa tertawa…

masih bisa bernyanyi…

masih bisa bercanda ria…

masih bisa makan sepuas-puasnya…

masih bisa berpakaian indah dan rapi Tapi mereka di sana…

hanya bisa sedih…

hanya bisa menangis duka…

hanya bisa merenungi nasib…

nasib buruk yang tengah menimpa…

tiada lagi makanan…

apalagi pakaian Dua sisi yang amat jauh berbeda…

bagaikan siang dan malam…

bagaikan langit dan bumi…

bagaikan bulan dan mentai…

akankah kita biarkan perbedaan itu berkelanjutan ?

akankah kita biarkan dua sisi itu semakin jauh terpisah ?

Mereka juga saudara-saudara kita…

mereka adalah bagian dari kehidupan kita…

bahkan mereka dan kita ibarat satu raga…

saling merasa dan saling menjaga satu sama lainnya…

tegakah kita tutup mata dan pintu hati kita….

tiada lagi mau tahu penderitaan mereka ?

sampai hatikan kita tutup pendengaran dan rasa kita…

tiada lagi mau meringankan beban hidup mereka di sana ?

 

tarbiyah@isnet.org