Zein Personal Site …

March 23, 2007

RENUNGAN DIRI

Filed under: Muhasabah

          
Assalamu’alaikum wr wb,

Semoga renungan-2 berikut ini, bermanfaat buat saya dan ikhwan/akhwat rohimakumullah…

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. Penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan….

Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda : Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara.        Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah :" Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik daripada yang dikatakannya, ampunilah dosa-2ku yang tersembunyi darinya, dan janganlah kata-2nya mengakibatkan siksaan bagiku…"

Ketika ditanya bagaimana cara mengobati hati yang sedang  resah dan gundah gulana, Ibnu Mas’ud r.a berkata :" Dengarkanlah bacaan Al-Qur’an atau datanglah ke majelis-2 dzikir  atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berkhalwat dengan Allah SWT Jika belum terobati juga, maka mintalah kepada Allah SWT hati yang lain, karena sesungguhnya hati yang kamu pakai bukan lagi hatimu…"

wassalamu’alaikum wr wb,
hamba Allah


Tak Berguna Lagi

Filed under: Muhasabah

Pagi nan hening,  burung-burung camar pun tak terdengar  menjerit, permukaan  laut  beriak kecil diayun gelombang tak tinggi.  Nampak semua mahluk begitu letih karena  semalam  tlah  hadapi  kunjungan badai nan tak alang-kepalang.  Suasana kala itu sangatlah kemusut. Angin  besar bertiup keras mengayun permukaan laut.  Semakin cepat tatkala gemawan turun merendah menjatuhkan  hujan.  Di  saat  itu, bulu  burung  pun basah menambah beban tuk melawan angin.  Nakhoda pukat menghitung gemunung ombak nan datang tuk  kenali  angin  apa nan  bertiup  pun  tuk  mencari jalan jauhi badai.  Pandangan jauh nakhoda tak lagi dimiliki,  kepakan sayap burung nan pesat melesat tak  bisa  ditunjukkan  lagi.  Awak pukat disepenuh tenaga tersisa memeluk tiang-tiang pukat nan berderak-derak. Meski sudah dihitung terkadang pukat melonjak dihempas ombak  nan  bergerak  tak  tentu arah. Jiwa nan mampu mengeluh terasa diaduk tak menentu.

Selepas badai,  sangat letihlah mahluk-mahluk yang masih menghirup udara  pagi  nan  sejuk.   Setelah  digoncang  tak   menentu   tak  berpengharapan  sedikitpun,  jiwa  mahluk  di  atas pukat mengalun datar bersama renung kan ketakmampuan diri di saat berlalu.  Batas antara hidup dan mati telah  dikunjungi  pun  ditelusuri  manakala badai menerjang tadi.  Pun teringat,  tatkala Adzan terhempas dari kalbu lalu menggetar di setiap mulut manusia-manusia nan terpuruk.

Syukur pasti kan  hadir  di  saat-saat  begitu.  Namun  syukur  kehadlirat  PENCIPTA  badai  YANG  MAHA KUASA kan menjadi cahaya nan cemerlang menyinari jiwa-jiwa itu.  Di  saat  badai,  manusia  nan tertindas seakan bebas diangkat oleh DIA, ALLOH SWT.  Akan tetapi, manusia penindas tlah kehilangan daya, tak kuasa sedikitpun bahkan menolong  diri  sendiri  pun  tak  mampu.  Sudah  sepantasnya rasa syukur slalu menghias jiwa mahluk manusia dalam sluruh  hidup  nan fana di dunia.  Ketika seseorang rakus,  maka kerakusannya tak kan kunjung terkabul,  karena ALLOH pemilik segala harta,  MAHA  KAYA. Andai  seorang  tak  slalu  bersyukur  kekikiran bisa liputi diri, kikir nan dibenci serta jauh dari puji ALLOH dan manusia.  Manusia nan  pandai  bersyukur,  terpujilah  ia  dengan limpahan puji dari ALLOH MAHA TERPUJI [Qs.31:12].  Sekali terdengar  pujian  dariNYA, niscaya   berlarilah   ia   menuju  raihan  semua  syukur.   Kini, berserahlah segenap diri kepadaNYA.  Andai  bayi  hendak  berjalan  berpegang  erat  pada  tangan  ibunda,  manusia  seperti  ini  bak  berpegang pada tali nan kuat nan tak lapuk pun tak putus  dihempas  badai mana dan apapun, tali ALLOH [Qs.31:22].

Masih saja,  jiwa-jiwa terhempas badai-berlalu menghitung kelakuan  diri  nan tlah ditempuh.  Diri kini tahu pun sadari kan suatu masa  dimana tak ada uluran tangan mahluk nan mampu saling bahu membahu, mata  tak  mampu  memandang,  telinga  tak  lagi mendengar,  lidah takkuasa berkata,  sebuah masa ketika kepak sayap burung tak mampu mengayuh,  di suatu saat perpisahan seorang ayah dan anaknya, saat seorang ayah tak berguna sedikitpun bagi anaknya [Qs.31:33].

wa ALLOH A’LAM

MENGUKUR SEBUAH CINTA

Filed under: Muhasabah



Dalam Kitab Hayatus Shahabah, halaman 524-525 diriwayatkan kisah berikut:

Menjelang perang uhud, Abdullah bin Jahsy mengajak sahabatnya, Sa’d bin Abi Waqqash untuk berdo’a. Ajakan itu disetujui oleh Sa’d. Keduanya mulai berdo’a. Sa’d berdo’a terlebih dahulu: "Tuhanku, jika nanti aku berjumpa
dengan musuhku, berilah aku musuh yang sangat perkasa. Aku berusaha membunuh dia dan dia pun berusaha membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan kemudian mengambil miliknya (sebagai rampasan perang)."

Abdullah mengaminkannya. Tiba giliran Abdullah berdo’a: Tuhanku, berilah aku musuh yang gagah perkasa. Aku berusaha membunuhnya, dan ia berusaha membunuhku. Kemudian ia memotong hidung dan telingaku. Kalau nanti aku bertemu dengan-Mu. Engkau akan bertanya, ‘man jada’a anfaka wa udzunaka?’ (Siapa yang telah memotong hidung dan telingamu?). Aku akan menjawab bahwa keduanya terpotong ketika aku berjuang di jalan-Mu dan jalan Rasulullah (fika wa fi rasulika). Dan Engkau, ya Allah akan berkata, "kamu benar!" (shadaqta).

Sa’d mengaminkan do’a Abdullah tersebut. Keduanya berangkat ke medan Uhud dan do’a keduanya dikabulkan oleh Allah.
Sa’d bercerita kepada anaknya, "Duhai anakku, do’a Abdullah lebih baik daripada do’aku. Di senja hari aku lihat hidung dan telinganya tergantung pada seutas tali."

Kisah ini telah melukiskan sebuah cara untuk mengukur cinta kita pada Allah. Sementara banyak orang yang berdo’a agar mendapat ini dan itu, seorang pencinta sejati akan berdo’a agar dapat bertemu dengan kekasihnya sambil membawa sesuatu yang bisa dibanggakan.


Ketika di padang mahsyar nanti Allah bertanya pada anda: "Dari mana kau peroleh hartamu di dunia?" Anda akan menjawab, "harta itu kuperoleh dengan kolusi dan korupsi, dengan memalsu kuitansi, dengan mendapat cipratan komisi."

Allah bertanya lagi, "apa saja yang telah engkau lakukan di dunia?"

"Kuhiasi hidupku dengan dosa dan nista, tak henti-hentinya kucintai indah dan gemerlapnya dunia hingga aku dipanggil menghadap-Mu." Allah dengan murka akan menjawab, "kamu benar!"

Bandingkan dengan seorang hamba lain yang ketika di padang mahsyar berkata pada Allah: "Telah kutahan lapar dan dahaga di dunia, telah kubasahi bibirku dengan dzikir, dan telah kucurahkan waktu dan tenagaku untuk keagungan nama-Mu, telah kuhiasi malamku dengan ayat suci-Mu dan telah kuletakkan dahiku di tikar sembahyang bersujud di kaki kebesaran-Mu."

Dan Allah akan menjawab, "kamu benar!"

Duhai…. adakah kebahagian yang lebih dari itu; ketika seorang hamba menceritakan amal-nya dan Allah akan membenarkannya.

Maukah kita pulang nanti ke kampung akherat dengan membawa amal yang bisa kita banggakan? Maukah kita temui "kekasih" kita sambil membawa amalan yang akan menyenangkan-Nya?

Armidale, 18 September 1997

Nadirsyah Hosen

Dua sisi

Filed under: Muhasabah

Kita di sini…

masih bisa tertawa…

masih bisa bernyanyi…

masih bisa bercanda ria…

masih bisa makan sepuas-puasnya…

masih bisa berpakaian indah dan rapi Tapi mereka di sana…

hanya bisa sedih…

hanya bisa menangis duka…

hanya bisa merenungi nasib…

nasib buruk yang tengah menimpa…

tiada lagi makanan…

apalagi pakaian Dua sisi yang amat jauh berbeda…

bagaikan siang dan malam…

bagaikan langit dan bumi…

bagaikan bulan dan mentai…

akankah kita biarkan perbedaan itu berkelanjutan ?

akankah kita biarkan dua sisi itu semakin jauh terpisah ?

Mereka juga saudara-saudara kita…

mereka adalah bagian dari kehidupan kita…

bahkan mereka dan kita ibarat satu raga…

saling merasa dan saling menjaga satu sama lainnya…

tegakah kita tutup mata dan pintu hati kita….

tiada lagi mau tahu penderitaan mereka ?

sampai hatikan kita tutup pendengaran dan rasa kita…

tiada lagi mau meringankan beban hidup mereka di sana ?

 

tarbiyah@isnet.org

January 4, 2007

Menikah ? Tergesa-gesa atau Menyegerakan

Filed under: Muhasabah

Menikah? Hmmm, siapa sih yang nggak mau? Asal sudah cukup umur, cukup
dewasa, cukup penghasilan, ada calon dan ada ijin orang tua sih tidak
masalah. Tapi jika kuliah saja belum kelar, penghasilan belum jelas,
lantas nanti anak orang mau dikasih makan apa?", begitu banyak
pertanyaan yang harus dijawab.

Manusia, sesuai dengan fitrahnya, telah diciptakan berpasang-pasangan
oleh Allah SWT. Dan adalah suatu fitrah pula timbul kecenderungan
antar pasangan tersebut.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
bagi kaum yang berfikir"(QS. Ar-Ruum:21)
Karenanya Allah telah mengatur urusan itu dan memberikan solusi berupa
pernikahan. Akan tetapi, ketika pernikahan itu harus terjadi lebih
awal alias ketika kuliah belum selesai, beragam komentar lantas
bermunculan.
"Udah nikah? Nggak tahan ya? Baru umur segitu!"
"Anak kemaren sore aja mau sok-sok menikah. Memang dia bisa apa?"
"Ngurus diri sendiri saja belum beres!"
"Jangan kecewakan kepercayaan orang tua! Mereka kasih uang supaya kita
kuliah, bukan nikah…"
Bertubi-tubi komentar berdatangan, namun toh ada juga yang berani
menikah ketika kuliah dan berjuang untuk itu. Ada juga yang baru
sebatas menyetujui . terbukti dari 176 mahasiswa FKUI program S1
reguler yang ditanya, lebih dari 60% menyatakan setuju. Walaupun ada
28% yang menentang dan sisanya abstain. Mereka yang setuju umumnya
beralasan bahwa dengan menikah ketika kuliah seseorang dapat menjaga
diri dari perbuatan dosa. Sementara sisanya mengatakan bahwa menikah
membuat hati lebih tenang.
Peristiwa Hormonal
Keinginan untuk menikah dan membina rumah tangga tentunya menyangkut
aspek pemikiran yang jauh lebih luas dari sekedar keinginan pemuasan
dorongan biologis. Dorongan biologis yang muncul sebagai rasa tertarik
kepada lawan jenis ini sangat berkaitan erat dengan gejolak hormonal
yang muncul dalam diri seseorang. Seperti dikutip dari buku "Indahnya
Pernikahan Dini" karangan Ust. Fauzil Adhim, dalam masa ini,
kebanyakan pemuda sedang berada di bangku kuliah. Sementara mayoritas
masyarakat menilai mereka belum cukup umur untuk menikah.
Maka, tidak sedikit yang menggunakan istilah menikah dini bagi mereka
yang menikah pada masa-masa kuliah. Masih menurut Ustadz yang
berperawakan gempal ini, masyarakat tidak jarang melakukan over
generalisasi. Komentar yang sering muncul ialah "Ya enggak. Tapi kan
menikah di masa kuliah nggak lazim. Jadinya pasti masyarakat akan
menilai negatif."
Namun, tidak sedikit juga masyarakat yang memberikan pujian bagi
mereka yang menikah lebih awal dan ternyata sanggup menjalaninya
dengan baik. Penilaian yang diberikan cenderung lebih menanggapi
tentang kedewasaan yang terbentuk selama mereka mengarungi bahtera
pernikahan.
Menyegerakan Menikah vs Tergesa-gesa Menikah
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan
orang-orang yang layak (menikah) dari antara hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki dan yang perempuan." (QS. An-Nuur:32)
Ayat di atas menegaskan tentang pentingnya menikah hingga menjadi
perintah untuk menikahkan orang yang masih sendirian. Namun ayat
tersebut juga tidak memerintahkan seseorang untuk menikah `buta’,
sebab terdapat penekanan kata `layak’ yang harus menjadi pertimbangan.
Menikah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, tetapi juga tidak boleh
dipandang sebelah mata. Menikah adalah fitrah bagi manusia dan sejalan
dengan anjuran Allah serta RosulNya. Pernyataan Rasulullah SAW dalam
hadist berikut dapat menjadi bahan renungan yang bisa membantu
memantapkan hati: "Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di
antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka,
meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka."
Allah akan menjamin siapapun yang mau menikah. Tetapi tetap saja harus
ada persiapan yang dilakukan. Karena menikah bukanlah pekerjaan yang
akan selesai dalam waktu dekat. Bahkan bisa jadi memakan waktu
sepanjang sisa umur pasangan tersebut di dunia ini. Sehingga
perencanaan yang matang mutlak diperlukan. "Orang yang mempunyai niat
yang tulus adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran
mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu
murni untuk Allah dalam segala perkara.." Begitu ucap Ja’far ash
Shiddiq, guru dari Imam Abu Hanifah. Menurutnya seseorang yang
menyegerakan menikah karena niat yang jernih Insya Allah hatinya akan
diliputi oleh perasaan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi
masalah-masalah yang harus diselesaikan. Berbeda dengan menikah
tergesa-gesa yang selalu ditandai oleh perasaan tidak aman dan hati
yang diliputi kecemasan yang memburu.
Ada sebuah perumpamaan tentang pernikahan dalam buku "Kado Pernikahan
Untuk Istriku": "Menikah itu seperti orang yang sedang mengendarai
motor dan menjumpai tikungan yang tajam, apakah dia akan segera
membelokkan kemudi tanpa mengurangi kecepatan karena ingin cepat
sampai atau dia mengurangi kecepatan sedikit, membelok, dan kembali
meningkatkan kecepatan perlahan-lahan?
Jalan hidup ini begitu panjang. Menikah merupakan salah satu rute yang
harus dilalui oleh manusia, sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk
hidup yang diciptakan berpasang-pasangan. Menikah ibarat menapaki
titian pelangi. Ada bagian yang mendaki dan memerlukan curahan energi
ekstra dan adapula bagian yang menurun yang menawarkan kesenangan,
kedamaian serta ujung kisah yang penuh pesona.
Ketenangan Emosi dan Separuh Agama
Sebuah penelitian antara tahun 1950-1970an menemukan bahwa orang yang
menikah cenderung lebih bahagia daripada mereka yang tidak menikah,
hidup sendiri atau bercerai. Mendukung pendahulunya, Campbell dkk
menulis dalam Human Development bahwa orang yang menikah cenderung
meraih kepuasan hidup. Yang menarik dari temuan mereka bahwa yang
paling bahagia diantara pasangan nikah bahagia adalah pasangan nikah
usia 20an. Sementara pada tahun 1989, Thomsen & Walker mendapati bahwa
dengan menikah para wanita menemukan tempat mengekspresikan perasaan
dan mengungkapkan luapan-luapan emosinya.
Enam tahun kemudian, Sprinthall & Collins mencatat bahwa pd pernikahan
dini kehidupan seksual akan lebih teratur & memperoleh legitimasi yang
kuat. Ini berpengaruh pada kemampuan mereka menikmati kehidupan seks.
Keteraturan & legitimasi terhadap kehidupan seksual mereka menjadikan
dorongan seks lebih stabil. Pada gilirannya, kestabilan ini dapat
menurunkan erotisisme shg mereka lebih mampu menundukkan pandangan.
Selain itu dengan turunnya erotisisme maka seseorang akan mencapai
ketenangan emosi. Manakala emosi mencapai kondisi yang seimbang, maka
kemampuan fisik & intelektual akan meningkat. Hu dan Goldman (1990)
memandangnya dari sudut kesehatan. Mereka menemukan fakta bahwa
orang-orang yang menikah cenderung lebih panjang usianya.
Mereka yang menikah akan mendapatkan jaminan kesempurnaan 50% agama.
"Apabila seseorang hamba telah berkeluarga, berarti dia telah
menyempurnakan separo dari agamanya, maka takutlah kepada Allah
terhadap separo yang lainya."(HR Ath-Thabrani).
Menikah dapat pula dijadikan bagian dari investasi meraih ridho Allah
dengan surga sebagai janjinya. Jika mereka mendapat anak sholeh, maka
ia telah membuka salah satu pintu pahala yang tidak berakhir sampai
hari perhitungan.
Kendala Yang Mungkin Dihadapi
Umumnya masyarakat masih menilai kedewasaan atau kesiapan seseorang
untuk menikah dari segi umur semata. Fenomena ini dapat menjadi batu
penghambat yang cukup berarti. Dalam bukunya: "Saatnya Untuk Menikah",
M. Fauzil Adhim menerangkan tentang kriteria kemampuan ekonomi
seseorang yang sering disalahartikan sebagai kemapanan dan
kepastiannya dalam menyediakan nafkah. Hal ini terbukti dari hasil
korespondensi menyatakan bahwa tak kurang dari sepertiga responden
memberi alasan tentang kondisi ekonomi sebagai kendala utama dalam
memutuskan menikah ketika kuliah. Definisi ini sedemikian pesatnya
berkembang sehingga banyak sekali keluarga akan berpikir dua-tiga kali
sebelum merelakan anak gadisnya dipinang. Hal ini juga mengakibatkan
gaya hidup materialistis, sehingga tak sedikit meninggikan kriteria
calon bagi dirinya.
Keluarga sebagai bagian dari komunitas yang paling sering berinteraksi
dengan seseorang, memegang andil yang besar dalam penentuan pilihan.
Seringkali keinginan yang menggebu-gebu untuk menikah ketika kuliah
mendapat tentangan dari orangtua alias tidak mendapat restu. Padahal
tanpa restu dari kedua orang tua, pernikahan bukanlah sesuatu yang
indah dan diberkahi oleh Allah SWT. Tidak sedikit orang tua yang sulit
menerima kenyataan bahwa anak mereka sudah tumbuh menjadi dewasa muda
dan sudah waktunya membina mahligai rumah tangga.
Selain itu keraguan akan diri sendiri, perasaan belum siap dan takut
terikat kepada komitmen juga memegang peranan yang tak kalah
pentingnya dalam menahan laju keinginan untuk menikah.

Renungan Buat Sang Istri

Filed under: Muhasabah


Wahai sang Istri ….

Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang
berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?

Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan
baju serta mengecup pipinya.?!!

Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki
rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.

Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami :
"Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat
datang kekasihku".

Berdandanlah untuk suamimu harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda
berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan, pakailah parfum,
dan bermake up lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut
suamimu.

Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.

Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak
dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.

Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada
Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.

Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga
menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal
yang jelek terhadap dirimu.

Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah
setiap saat.

Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta
kesedihan yang menimpanya.

Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.

Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid,
dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena
surat itu dapat mengusir syeitan.

Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa
merusak agama.

Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk
melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda
menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.

Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan
seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang
baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya
Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah
berfirman:"Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu" (Al-Ghafir
: 60).


Diambil dari kitab " Fiqh pergaulan suami istri " oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.

Berduaan yang Terawasi

Filed under: Muhasabah

Islam telah memerintahkan kaum laki-laki maupun kaum wanita agar menjauhi perkara-perkara yang syubhat, dan menganjurkan sikap hati- hati agar tidak tergelincir dalam perbuatan ma’siyat kepada Allah, serta menjauhkan diri dari pekerjaan, atau tempat apa pun tidak berbaur dengan kondisi dan situasi apapun yang di dalamnya terdapat syubhat, supaya mereka tidak terjerembab dalam perbuatan yang haram.

Memang benar, yang berhak membuat hukum hanya Allah. Itu sebabnya, segala sesuatunya kita serahkan saja kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalo haram yang dikatakan ALlah dan rasul-Nya, ya haram pula yang kita pahami. Begitu sebaliknya.

Masalahnya, jika kemudian aktivitas "berduaan terawasi" ini pun masih rancu. Bahkan menurut saya hal itu termasuk yang nyerempet2 kepada perbuatan yang dikhawatirkan akan menjerumuskan pelakunya kepada perbuatan yang maksiat.

Nah, karena tampaknya ini akan terus menjadi perdebatan definisi pacaran islami pun masih bias ternyata…

Oke deh, ada baiknya menyimak hadis ini. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya yang halal telah jelas, begitu pula yang haram telah jelas; dan di antara dua perkara itu terdapat syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barang siapa berhati-hati dengan tindakan syubhat sesungguhnya ia telah menjaga agama dan dirinya, dan barang siapa yang melakukan tindakan syubhat, maka ia telah melakukan tindakan yang haram, sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan kembingnya di seputar pagar, kadang-kadang bisa jatuh melewati pagar itu. Ketahuilah sesungguhnya setiap penguasa memiliki pagar pembatas, dan sesungguhnya pagar (batas) Allah adalah apa yang diharamkannya." (HR. Bukhari)

December 18, 2006

Jatuh Cinta

Filed under: Muhasabah

Orang yang sedang jatuh cinta logikanya selalu terbalik,

yang berat terasa ringan,

yang sebentar terasa lama dan yang lama terasa sebentar.

Begitupun orang yang cinta kepada Allah SWT,

ia merasa ringan beribadah, rindu baitullah,

nikmat membaca al Qur’an, dan bahkan menyongsong kematian dengan tersenyum.

 

Ciri cinta sejati ada tiga ;

(1) lebih suka berduaan dengan yang dcintai daripada dengan yang lain,

(2) lebih suka berbicara dengan yang dicintai daripada dengan yang lain, dan

(3) lebih suka mengikuti kehendak orang yang dicintai

daripada kehendak sendiri atau kehendak orang lain.

Orang yang sedang jatuh cinta cenderung sering menyebut nama dia yang dicintai,

dan bahkan merasa nikmat diperbudak olehnya

Doa orang yang cinta kepada Sang Khaliq antara lain :

Allohumma rohmataka arju fala takilni ila nafsi thorfata `ainin ya arhama ar rahimin.

Ya Allah, hanya kasih sayang Mu yang kudambakan,

jangan Engkau biarkan aku menentukan sendiri kemauanku,

walau hanya sekejap mata, wahai Tuhan kekasihku.

August 1, 2006

hati kecil…

Filed under: Muhasabah

"...Apabiia seseorang melakukan perbuatan yang dianggap kurang benar, maka selalu muncul jeritan dari dalam hatinya. Saat ituiah nurani mulai bicara…"

renungan aja…

Filed under: Muhasabah

Jangan terpesona hanya karena wajah yang manis dan tutur kata yang penuh rayu, sebab berislam yang benar tidak pernah didasarkan pada kehalusan tutur dan perilaku semata, tapi pada kekuatan hujjah yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah yang shahihah. Mudah-mudah Anda dapat memahami itu. Wallahu a’lam.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M